Cerita Horor dari novel KAMAR MAYAT (F. Rubianti)

Dering Ponsel Dari Kamar Mayat
Penulis : F. Rubianti


R
umah sakit itu berdiri sejak puluhan tahun silam, bahkan sejak pemerintahan Belanda bercokol di bumi Indonesia. Konon banyak kisah seram terjadi disana dari banyaknya arwah penasaran.
Bahkan beberapa minggu yang lalu, aku mendapatkan kabar kalau dulunya sebelum rumah sakit ini berdiri, pernah terjadi kematian yang mengenaskan akibat korban peperangan dan mayatnya dibiarkan begitu saja hingga menjadi arah penasaran yang gentanyangan mengganggu kehidupan manusia.
Katanya lagi, mayat-mayat itu ada yang tidak utuh. Ada yang kehilangan bagian anggota tubuhnya. Dari mulai kaki, tangan hingga jemari-jemarinya.
Lalu beberapa orang pernah pula melihat bagaimana tampat-tampat tidur terangkat dan kembali lagi ke tempatnya saat mereka lewat. Teramasuk pula pasien yang tengah berbaring di ruang operasi pernah terkejut dan terbangun gara-gara mata mereka harus melihat sesuatu yang menyeramkan. Beberapa peralatan yang ada di sana terbang diselingi suara tawa cekikikan yang memuat bulu kuduk berdiri.
Dan sekarang, aku harus menjadi bagian dari  rumah sakit yang berada di Salemba, yang statusnya sudah RSUD itu.
Hampir tiga tahun aku menjadi tenaga tekhnisi di sana. Dan malam ini aku harus berhadapan  dengan sesuatu yang membuat merinding dan ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan.
Malam itu jam setengah sembilan, lampu di ruangna laundry tiba-tiba mati. Aku yng bertugas di hari itu mau tak mau harus mengeceknya, padahal setengah jam sebelumnya aku barubaru saja mendengar kisah menyeramkan itu. Rasa takut pun belumah hilang, namu apa daya aku harus melangkahkan kaki kearah sana.
Ruangan laundry memang tidsk menyeramkan, namun karena kondisinya gelap gulita membuat nyaliku seperti teruji juga. Apalagi di depan laudry itu dipakai sebagai tempat penimpanan barang-barang gak terpakai dan jarang ada orang masuk kedalamnya.
‘’Hmmmm…’’aku berusaha membuang rasa takut sambil terus melangkah mendekati pintu ruangan itu. Dalam hati berharap semoga tak terjadi apa-apa.
‘’Kreeeekkkkkk….,’’ aku memutar gagang pintu.
Hmmmm..tercium hawa gak enak dari Ac yang mati dan tumpukan kain yang entah kain apaan.
Aku mulai mengeluarkan peralatan yang selama ini tak bisa jauh dari tanganku sebagai tekhnisi. Tapi yang pertama aku keluarkan adalah senter.
Belumlah benda yang ada dalam genggamanku nyala, sesuatu terjadi. Ya…ku seperti menginjak benda kenyal. Dalam bayanganku adalah kaki seseorang. Tapi siapa dia? Keringat dingin mulai keluar. Tubuhku seras kaku.
Perlahan aku arahkan penglihatan ke bawah dengan senter yang mulai nyala. Naman aku tak berani menatapnya. Dan benda kenyal itu masih berada di bawah sepatu ketsku. Rasanya ini bergetar tak karuan, apalagi bau amis yang mulai aku ciun, menambah sersm suasana yang ada.
‘’Teng…teng! suara jam dinding berdentang mengagetkanku yang masih  dalam membisu, sampai-sampai aku melompat. Dan senter yang masih berada dalam tanganku terlepas begitu saja. Cahayanya tepat pada benda yang aku injak tadi.
‘’Masya Allah,’’ aku bergumam dengan tarikan nafas lega,  ternyata benda itu hanyalah slang dari mesin cuci yang terlepas dari tempatnya. Aku tersenyum, sedikit lega.
Mulailah tumbuh keberanian di dalam hatiku. Serta merta aku mulai memeriksa sambungan listrik dan saklar yang ada di ruangan itu.
Tapi, tetap saja persaan tak menentu menguasaiku. Mungkin Karena sendirian. Iseng aku putar lagu di ponsel sebagai teman megusir sepi. Benda kecil bertekhnologi canggih itu aku letakkan di ats meja tak jauh dari tempatku berdiri.
Semenit, dua menit, lima menit semua berjalan lancar. Namun tanpa aku duga, tiba-tiba lagu yang putar itu berhenti. Aku melirik ponsel,’’Apa lawbatt ya?’’batinku.
Aku raih ponsel, namun bukan benda itu yang terpegang tapi sesuatu yang membuat tangnku jijik bahkan ingin sekali melepaskannya, namun tak bisa. Tanganku seperti tak bisa bergerak. Bahkan semakin ingin melepaskannya, justru makin kencang memmegangnya.
Keringat dingin pun kembali menetes, bahkan merinding pun makin teras. ‘’Bruak!’’ tiba-tiba pintu ruangan yang tadinya terbuka lebar tertutup kasar. Aku tahu di sana tak ada manusia, aku pun tahu tak ada angin di malam itu.
Dalam penerangan yang terbatas dari cahaya senter, lambat laun aku melihat benda iu.’’Ya Tuhan,’’ aku tak mampu lagi berkata-kata. Tanganku tengah memegang jempol tangan tangan yang ukurannya lebih besar dari ukuran jempol manusia umumnya. Dan yang menjijikan lagi, penuh darah menetes.
  ‘’Hi..hi..hiiiihiiiii…,’’ tawa melengking itu terdengar tiba-tiba, seolah menertawakanku yang ketakutan. Aku bingung, sekuat tenaga melepaskan benda itu. Ketakutanku kian menjadi-jadi, namun terdorong oleh keinginan menyelamatkan diri, benda menyeramkan itu akhrinya bisa aku lepaskan juga. Aku lempar begitu saja, dan entah kemana hilangnya.
Sementara suara tawa itu makin terdengar, aku makin tak bisa menggerakkan tubuh. Bahkan untuk meraih gagang pintupun rsanya susah dan jauh jangkauannya, padahal jarknya begitu dekat.
Bau amis seperti bau darah pu makin menyengat hidug. Lalu sesaat kemudian, terdengar bunyi ponsel .’’Itu bunyi ponselku,’’refleks aku berkedip-kedip di bawah meja. Aku yakin itu ponselku yang masih berdering. Tapi tak lam suara dering itu berhenti, berubah menjadi suara yang mengerikan. Seseorang bersuara parau menangis terdengar di sana. Ponselku menyala seperti ada panggilan masuk bukan deringnya yang terdengar tapi suara yang membuat aku iba sekaligus ngeri mendengarnya.
Ingin rasnya aku berlari meninggalkan ruangan ini. Namun terasa sulit, bahkan aku merasa sedang berada di ruangan besar dengan kamar-kamarnya yang membuat susah mencari jalan keluar.
Mataku tak berkedip berusaha mencari celah, siapa tahu ada lbang yang bisa membuat aku keluar dari tempat yang bisa membuat jantung copot. Sungguh , aku shock tak terandingi. Ruangan ini seperti neraka saja.
‘’Kreeeekkkkk!’’ gagang pintu berbunyi diselingi angin berhembus. Pelan tapi membuat dingin tubuhku.
Kini pintu itu terbuka lebar, entah siapa yang membukanya. Aku tak perduli, yany penting aku merasa ada tempat menyelamatkan diri. Pokoknya aku harus berani menuju pintu itu. Tak lagi berpikiran tentang ponsel atau jempol menjijikan, aku bangkit, berdiri lalu berlari secepatnya.
Tanpa sadar ternyata aku salah arah . lorong yang aku lalui malah menuju ruangan seram lainnya. KAMAR MAYAT! Di sanalah kini langkahku tertahan. Tidak begitu dekat. Aku berdiri kira-kira lima meter dari ruangan berhawa dingin tersebut. Itupun aku berhenti seketika setlah otakku sadar akan arah jalan yang salah.
‘’Huh!’’ aku buang nafas, sembari teriak sekencangnya melepaskan beban yang hampir satu jam ini mengukungku. Kesal pada diri sendiri yamg begitu bego mengambilarah dan takut pad situasi yang terjadi.
Lagi-lagi angin berhembus perlahan, lagi-lagi juga suara ponsel itu terdengar. Aku heran, ruangan laundry itu kan sudsh jauh dai tempatku berdiri sekarang. Kenapa masih terdengar juga deringnya.
Makin lama, makin memekakan telinga dan suara itu sepertinya dekat sekali. Diantara ketakutan, aku berusaha pasang telinga kuat-kuat. Mungkinkah dering posel itu berasal dari kamar mayat?.
Membayangkan itu aku makin tak kuasa mengendalikan ketskutan. Tapi ada rasa penasaran yang mengalahkan rasa cemas.
Keringat dingin yang makin membasahi badn, bulu kiduk makin berdiri dengan perasaan merinding yang tiada tara kali ini tidak membuat aku mundur. Aku pun heran darimana keberanian ini muncul.
Perlahan aku melangkah mendekati ruangn itu. Tepat di depan pintu bertuliskan KAMAR MAYAT, aku hentikan langkah. Tanganku bergetar saat menyentuh gagang pintu lalu memutarnya.
‘’Tak terkunci,’’ aku berkata dalam hati.
Pintu itu dengan mudahnya terbuka. Terkejut luar biasa, ponsel itu kini berada di salah satu kereta jenazah yang kosong. Terus bordering dengan kedipnya.
Kerauan mulai maenjalari pikiranku. Mendekat, mengambil ponsel itu atau mendiamkannya lalu berputar arah dan pergi jauh.
Kepelaku bergeleng-geleng sendiri. Tanganku berulangkali mengelap keringat yng jatuh di bagian kening dan wajah.
‘’Huhhhh…,’’ aku tarik nafas mencoba mengumpulkan tenaga. Bagaimanapun aku harus mendekat, mengambil ponsel itu lalu berlari jauh.
 Tapi apa daya, sesuatu bergerak-gerak di sana. Ya…di samping kiri ponsel itu aku melihat sesuatu. Mungkin kalau tiada ada cahaya dari ponsel yang berkedip –kedip itu tidak akn kelihatan.
‘’Ya Tuhan…ternyata benda itu adalah jempol besar penuh darah yang menjijikan. Dia berada di sana bersama ponselku.’’
Seketika itu juga langkahku terhenti. Seperti mati kutu, diam di tempat.
‘’Jangannnnn...jangannnnn…!’’aku berteriak sambil balik badan. Betapa tidak! Suara mengerikan lainnya terdengar di sana-sini. Rintihan perempuan minta tolong, suara sesunggukan yang sedang menangis dan entah apa lagi.
Beralari sekancangnya menyelamatkan diri keputusanku saat itu juga. Dan kali ini aku berhasil. Ruanganku tempat bekerja menjadi langkah pemberhentianku. Di sana ada dua teman satu temanku yang terheran-heran melihat bajuku yang basah kuyup, dan wajah yang pucat pasi dengan keringat bercucuran.
Yang anehnya lagi, mereka bilang tidak ada ruangan yang bermasalah termasuk ruangan laundry yang masih seperti biasanya. Dan mereka juga dengan santainya memberitahuku kalau ponselku tertinggal di atas meja kerja, sedari tadi  berdering terus.
‘’Hah?’’ aku makin terkejut saja.    





Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 anime genre romance